TANGERANG–Pelaksanaan Musyawarah Cabang (Muscab) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Tangerang yang digelar pada Jumat, 10 April 2026, menjadi sorotan tajam publik. Suasana hangat menyambut kedatangan Wakil Ketua DPR RI dari Fraksi PKB, Dr. H. Cucun Ahmad Syamsulrijal, S.Ag., M.A.P., seketika berubah riuh saat salah satu kader DPAC, Abdul Rosyid, bersuara lantang sambil membentangkan spanduk aspirasi di lokasi acara.
Aksi tersebut menarik perhatian awak media dan peserta Muscab, terutama sorotan tertuju pada dinamika internal di wilayah Kecamatan Kelapa Dua. Menanggapi situasi tersebut, Abdithiya Mopangga, selaku Ketua PAC PKB Kecamatan Kelapa Dua, memberikan pernyataan sikap yang sangat tegas dari luar forum.
*Kader Bukan Sekadar Alat Mobilisasi*
Meski berhalangan hadir dalam Muscab karena urusan pekerjaan yang tidak dapat ditinggalkan, Abdithiya menegaskan bahwa dirinya tetap memantau dan mendukung penuh arus perubahan. Ia menilai selama ini ada ketimpangan fungsi kader di tingkat bawah.
"Kader di tingkat bawah selama ini seolah hanya dijadikan alat mobilisasi politik saat momentum tertentu, tanpa adanya kontribusi nyata bagi penguatan organisasi secara berkelanjutan. Ini yang harus kita ubah, " tegas Abdithiya Mopangga, Sabtu (11/4/2026).
*Urgensi Regenerasi dan Figur Berbasis Politik Jelas*
Abdithiya menilai bahwa tuntutan perubahan yang disuarakan oleh para kader, termasuk aksi pembentangan spanduk tersebut, adalah hal yang rasional dan mendesak. Ia mendorong adanya regenerasi kepemimpinan, khususnya kepada figur yang memiliki basis politik kuat dan nyata di lapangan.
"Kami memandang pentingnya regenerasi kepemimpinan, terutama dari jajaran anggota DPRD Kabupaten Tangerang. Mereka adalah figur yang memiliki basis politik jelas dan paham kebutuhan nyata di lapangan, sehingga arah kebijakan partai akan lebih selaras dengan aspirasi warga, " tambahnya.
*Menolak Status Quo demi Masa Depan Partai*
Bagi PAC Kelapa Dua, momentum Muscab 10 April ini semestinya menjadi titik balik transformasi organisasi, bukan sekadar seremoni untuk mempertahankan status quo. Abdithiya memperingatkan bahwa tanpa keberanian untuk melakukan evaluasi dan pembaruan struktural, partai berisiko kehilangan legitimasi dan daya saing.
Beberapa poin strategis yang ditekankan oleh Abdithiya meliputi:
1. Pemulihan Kepercayaan Kader: Memperbaiki tata kelola organisasi agar setiap anggota merasa dihargai.
2. Transformasi Nyata: Membuka ruang evaluasi seluas-luasnya terhadap kinerja kepengurusan sebelumnya.
3. Prinsip Representasi: Memastikan pemimpin terpilih benar-benar mewakili suara dan kepentingan akar rumput, bukan kepentingan segelintir elit.
"Regenerasi adalah langkah strategis untuk menyelamatkan partai. Kita butuh perubahan agar PKB tidak terjebak dalam pola lama yang justru memperlemah kekuatan kita sendiri di masa depan, " pungkas Abdithiya. (JQ/Spyn).
